Hari itu Sabtu ketika dia mengantar saya mengunjungi Talaga Bodas hingga Cikahuripan. Rabu minggu depan dia akan menikahi seorang gadis Cianjur yang dulu dikenalnya ketika masih bekerja di Bandung.
Perkenalan awal saya dengan beliau di pangkalan ojek hanya sebatas tawar-menawar tarif jasa mengantar ke Talaga dan kembali ke Wanaraja, plus kesediaan menunggu "agak lama" karena saya mau menikmati keindahan talaga.
Ojek yang berpengalaman.
Ketika di perjalanan dia membelok meninggalkan jalan utama, saya menyadari bahwa dia paham jalur alternatif ke tempat tujuan. Saya percaya saja, katanya jalur utama lebih parah karena batu-batu besar di perjalanan. Ketika mulai melewati lintasan yang tidak biasa untuk sepeda motor, saya baru benar-benar tau kemampuannya. Batu-batu besar di perjalanan sangat menantang keseimbangan berkendara. Belum lagi ketika meniti pematang sawah, kebun jagung, kebun brokoli, hingga jalan tanah yang dapat segera berubah menjadi selokan bila hujan turun. Namun semuanya dapat dilalui dengan sepeda motor jenis bebek yang tidak lagi baru.
Sebenarnya sebelum berangkat ke Garut, seorang Belgia sudah mengingatkan agar memilih ojek yang "skilled" dan sepeda motor yang tangguh, namun tidak ada pilihan lain di pangkalan ojek ketika saya tiba. Ternyata saya tidak salah pilih.
Antara Garut - Cianjur
Kembali ke cerita tentang si tukang ojek, ketika batu-batu besar makin banyak mengguncang, dia berhenti dan mengenakan sarung tangan tebal. "Akhir-akhir ini tangan saya bisa keram, apalagi kalau perjalanan jauh, malam, dan tanpa sarung tangan. Padahal dulunya tidak pernah, bahkan kalau naik motor ke Cianjur." katanya.
Lalu dia bercerita tentang pengalamannya naik motor, hingga ke Cianjur berulang kali. Ternyata untuk mengunjungi calon istri yang akan dinikahinya empat hari lagi. Dalam obrolan lain dia menyebut tahun kelahirannya, 1987. Jadi umurnya dua puluh dua tahun dan segera akan menikah!
Menikah muda
Dan hal-hal berikut ini yang paling penting dari cerita-ceritanya. Sebenarnya dia masih ingin menikmati masa muda sendirian, namun keluarga calonnya mulai mempertanyakan keseriusan niat dan cintanya. Maka menikahlah mereka.
Niat merantau ke Arab menjadi TKI
Tentang masa depan, dia ternyata sudah punya gambaran. Selepas menikah, dia dan istrinya berencana menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Arab.
Tentang keinginan merantau ke Arab, dia dapat menjelaskan dengan detil seputar rencana dan harapannya. Berangkat bersama istri dan mengabdi pada satu majikan katanya akan memberikan penghasilan yang lebih baik daripada berangkat sendiri-sendiri dan mencari pekerjaan masing-masing. Dia akan jadi supir sementara istrinya nanti jadi pembantu rumah tangga. Dengan begitu, dia juga dapat tetap bersama-sama dengan istrinya. "Rencananya mau lima tahun saja, setelah itu mudah-mudahan sudah punya modal untuk kembali berusaha di kampung", tegasnya.
Tentang penghasilan seorang supir di Arab, dia memaparkan perhitungan dengan detil, dari nilai dalam mata uang di Arab (saya lupa perhitungannya), menjadi sekitar tiga setengah juta dalam rupiah. Jika berdua dengan istri, berarti bisa dapat dua kali tiga setengah juta. Katanya lagi, bisa dapat gaji lebih tinggi lagi kalau mau makan di luar, bukan di rumah majikan.
Terakhir, tentang pilihan negara tujuan, dia mengerti tentang Arab Saudi, Qatar, juga Uni Emirat Arab. Juga karakter majikan dari masing-masing negara tersebut. Rupanya niatnya sudah bulat. Semoga berhasil ya!
komentarlah
HOhohoho....
Tertarik jadi TKI juga om?
Belum
Belum Nak! ;P
Biar si Aa' itu aja yg jadi TKI sama istrinya.
Post new comment