Baru pukul 14 ketika saya selesai mengelilingi talaga bodas. Masih ada cukup waktu sebelum maghrib tiba dan pemandu saya menawarkan ke Cikahuripan, tempat pemandian yang dipercaya sangat berkhasiat menyembuhkan aneka penyakit. Saya menurut, bukan karena sakit tapi penasaran. Kami menelusuri jalan berbatu dengan sepeda motor yang melaju turun tanpa bantuan tenaga mesin, hingga menemukan sebuah bangunan rumah panggung rendah namun panjang milik Pak Haji.
Dari rumah pak Haji yang tepat di pinggir jalan desa di perbatasan Garut - Tasikmalaya, pancuran cikahuripan hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki melalui jalan setapak setelah sebelumnya melintasi tanggul kolam ikan nila milik Pak Haji.
"Dulu jalannya tidak selebar sekarang ini." kata pemandu saya. "Orang-orang yang datang kemari mesti mengikat dan membuat simpul pada daun-daun rerumputan untuk menandai jalan yang mereka sudah lalui, agar mereka dapat menemukan jalan kembali." Dia lalu menunjuk jenis tanaman yang daunnya sering diikat orang, sekalipun saya sama sekali tidak memperhatikannya. Sekitar lima menit saja berjalan dari rumah Pak Haji tadi dan kami sudah tiba di pancuran. Terdapat kolam penampungan air dari mata air yang kemudian disalurkan melaui tujuh pipa yang dipasang berjejer, masing-masing berujung sebagai pancuran. Air di kolam terlihat hijau, sekalipun dasar kolam tidak mungkin berlumut karena tingginya suhu air kolam.
Tujuh pancuran air panas. "Rasanya tiap pancuran itu beda-beda" pemandu saya mulai bercerita. Saya mendekati pancuran yang di ujung dan mencoba menganalisa dengan sensor saraf di ujung jemari. Dilanjutkan yang kedua, ketiga, hingga semuanya saya coba. Tidak ada bedanya. Saya tidak mengerti rasa apa yang dimaksud si pemandu. Lagipula, ketujuh pancuran ini bersumber dari kolam yang sama. Logika saya mulai protes.
Lalu berkali-kali pemandu saya mencoba meyakinkan manfaat mandi di pancuran tersebut. Dia bertutur tentang kisah orang-orang yang sembuh dari beragam penyakit setelah mandi di pancuran. Tapi saya benar-benar sedang tidak berniat mandi, cukup melihat-lihat saja.
Rupanya pemandu saya ini ingin mandi, dan memang setiap kali dia mengantar tamu ke tempat ini, dia juga ikut mandi. Sepertinya setiap kunjungannya ke sini sangat sayang jika harus melewatkan manfaat air pancuran. Lalu saya mempersilahkannya melaksanakan niatnya, dengan konfirmasi bahwa saya tidak keberatan menunggu. Maka mandilah dia.
Ada lagi yang lucu. Tidak ada pengunjung lain selain kami berdua, jadi tidak ada kaum hawa di tempat itu. Dengan tidak mengurangi ketaatan terhadap UU Pornografi, beliau menanggalkan pakaiannya hingga tersisa celana dalam, sebelum berjalan ke bawah pancuran. Satu helai yang masih tersisa di badannya ikut ditanggalkan ketika tepat di bawah pancuran. Jadi dia mandinya telanjang, tanpa pakaian.
Sembari menunggu, saya memilih melihat-lihat sekitar tempat itu. Termasuk gubug tua yang pintunya terkunci. Gubug ini adalah tempat istirahat atau menginap bagi pasien yang memerlukan terapi di pancuran untuk waktu yang lama. Tidak ada jendela pada dinding yang sudah menjadi korban vandalisme. Saya memutarinya dan dikejutkan oleh kicau burung-burung ketika berada di belakang gubug.
Di pinggiran halaman gubug terdapat tumbuhan berdaun panjang yang ujung-ujungnya tersimpul. Ini rupanya tanaman itu. Sekarang ketika jalan ke pancuran sudah dilebarkan, tradisi mengikat ujung daun tetap dilakukan, tertutama oleh mereka yang percaya akan khasiatnya. Mereka percaya bahwa dengan membuat simpul pada daun, penyakit mereka ikut diikat di sini. Jadi setelah mandi dan membersihkan tubuh di pancuran, mereka menanggalkan penyakit dengan mengikatnya di dedaunan.
Si pemandu tidak lama mandinya, namun saya kagum ketahanan tubuhnya terhadap tempetatur air yang menurut saya jauh di atas batasan yang layak untuk mandi. Mungkin sekitar 150 derajat pada skala Fahrenheit. Masih ada beberapa helai daun tumbuhan di halaman itu yang belum terikat, dan saya menunggu untuk memastikan apakah pemandu saya itu akan melakukan ritual itu juga. Dia berlalu segera setelah mengenakan kembali pakaiannya. Ah, dia sudah pakai otak.
Saya turun sekali lagi ke pancuran, mencuci muka hingga belakang daun telinga dan kedua tangan saya hingga sebatas siku. Kurang kaki untuk sebuah wudhu. Tapi saya malas melepas sepatu yang mulai basah terciprat air. Lalu saya memperhatikan aliran air setelah pancuran. Di sepanjang aliran air terdapat ratusan celana dan celana dalam, lagi-lagi bekas orang mandi yang dibuang sembarangan. Mengotori Gunung! Saya memotretnya untuk oleh-oleh. Dan kami berjalan pulang.
Saya memberikan selembar uang bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II kepada pemandu untuk biaya kunjungan kami (Tarif sebenarnya cukup Rp. 2000 per orang), dan dia menempelkannya ke tangan Pak Haji ketika berpamitan pulang. "Hatur Nuhun, Pak Haji"
Foto-fotonya menyusul ya.
ur order.. =p
Dikau minta aku baca n kasih masukan, so u got it. Woi, ajak2 donk klo jalan2. Heu..heu.. Bikin orang mupeng ajah ni.
Ohya, ada sedikit masukan. Di paragraf ke sembilan, kalimat terakhir, kurang kata depan 'di' menjadi 'mengikatnya di dedaunan.' Itu ajah sih...
Kapan mau jalan2 lagi, ajak2 akyu ya. Biar objek bidikan kameramu semakin bagus coz ada manusianya. Huaha..ha..
koreksi
Thanks ya sudah mampir dan terutama koreksinya (sudah dibetulkan).
PS: nanti ke Pangandaran mau gabung nggak?
Post new comment