main air dan pasir di kepulauan seribu - bagian pertama

Bagian pertama dari catatan perjalanan main air dan main pasir di kepulauan seribu.

Mei 2009. Matahari belum juga muncul dan kegelapan masih meliputi jakarta di suatu pagi ketika kami sudah tiba di Sarinah, tempat yang dijadikan "meeting point" untuk keberangkatan ke kepulauan seribu. Ini prestasi bagun pagi yang sangat baik, apalagi jam segitu sudah mandi dan bersiap setelah sebelumnya menjemput dua tamu istimewa dari Bandung. Dan sarinah, ternyata yang menjadikannya sebagai meeting point bukan hanya rombongan kami. Kelompok Indobackpacker yang dikomandoi mas Aris juga janjian berkumpul di sana, untuk kemudian berangkat menuju Krakatau.

Dalam remang cahaya lampu dari restoran siap saji, kami berkenalan satu dengan yang lain. Informasi nama dan orang cukup sulit untuk disimpan secara tepat dan lengkap ke dalam memori. Apalagi sebagian besar anggota rombongan baru dikenal pagi itu. Tapi yang membanggakan, ternyata ekspedisi ini tidak hanya diikuti oleh peserta dari Jakarta dan Bandung, tapi juga dari Cirebon dan Yogyakarta. Ini adalah perjalananku yang ketiga ke kepulauan seribu, dan selalu bersama orang yang belum pernah ke sana sebelumnya.

Tiga belas orang terkumpul untuk perjalanan ini, sehingga diperlukan setidaknya tiga taksi untuk mengangkut ke pelabuhan Muara Angke. Cukup lama menunggu untuk mendapatkan tiga taksi, satu dengan logo burung biru sementara dua lainnya primajasa. Dalam perjalanan menuju Muara Angke, ternyata pengemudi primajasa memilih tidak mengaktifkan argometer di taksi. Ketika ditegur, alasannya nanti disamakan dengan taksi premium yang satu itu. Inilah perilaku tidak terpuji pengemudi taksi. Ingin harga disamakan dengan yang berkualitas, tapi tidak bisa memberikan layanan yang sama. Dengan protes berat dari semua penumpang, pengemudi primajasa mengalah dan bersedia dibayar lebih murah dari burung biru.

Kapal tujuan pulau Pramuka sudah dipenuhi penumpang ketika kami tiba di Muara Angke. Sedikit ruang tersisa di bagian depan kapal tidak kusia-siakan. Selain pemandangan yang bagus, berada di luar atau di atap kapal menurutku adalah tempat yang paling aman di kapal seperti ini. Teman-teman yang lain memilih tempatnya sendiri-sendiri sesuai selera, bahkan walaupun kutawarkan tempat yang menurutku baik.

Masih kurang dua belas menit ke jam tujuh pagi ketika kapal bergerak pelan-pelan meninggalkan Muara Angke. Pelayaran (bukan dengan perahu layar) menuju pulau Pramuka membutuhkan dua hingga tiga jam dan melewati perairan di sekitar pulau Bidadari, Pulau Onrust, Pulau Rambut, dan Pulau Untung Jawa. Laut pagi sangat tenang dan kami semua tenggelam dalam lamunan masing-masing.



Dalam suasana begini, akan lebih lengkap kalau ada musik lagu keroncong Pulau Seribu dari Tetty Kadi.

Bersambung

kereeeeeeen

uih kereeeeeeeeeeeen.......

hohoohoho...
ntar pas kape saya moto2 deh ntar ta'tunjukin
hohohoho...

bagus ya....pulaunya...butuh

bagus ya....pulaunya...butuh biaya berapa ya kalo ke P. Pramuka n P. Semak daun?....dr Kp. Rambutan?

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options