main air dan pasir di kepulauan seribu - bagian kedua

Bagian kedua dari catatan perjalanan main air dan main pasir di kepulauan seribu.

Sekitar pukul sembilan pagi, kapal kami merapat di dermaga Pulau Pramuka. Di dermaga ini seorang penjemput sudah menunggu untuk mengantarkan ke rumah/penginapan yang kami pesan. Ternyata cukup jauh ke sebelah selatan pulau, karena homestay di sekitar dermaga sudah habis dipesan dan wisma taman nasional juga penuh dengan tamu. Tapi rumah yang ini besar dan lebih dari cukup untuk kami bertiga belas.

Ada dua kamar tidur di rumah yang seperti baru selesai dibangun tersebut. TV tabung sinar katoda dengan layar datar tersedia di ruang tengah yang menjadi penghubung kamar tidur ke ruang tamu, ruang makan, dan dapur. Di salah satu kamar juga ada pendingin udara. Tapi semua fasilitas ini belum bisa segera dinikmati karena listrik di pulau pramuka baru akan menyala pukul empat sore hingga pukul tujuh pagi. Ini berbeda dengan jadwal listrik pada kunjungan sebelumnya ke pulau pramuka, dimana listrik menyala pukul sepuluh pagi hingga pukul dua siang, dan pukul lima sore hingga tujuh pagi.

Setelah menyimpan barang - barang bawaan dan berganti pakaian yang sudah disiapkan untuk berbasah-basah, rombongan berjalan lagi mencari tempat makan. Targetnya adalah sebuah rumah makan masakan padang di dekat dermaga. Nasi ayam dengan teh manis dibayar sekitar 10 hingga 15 ribu. Beberapa teman yang mencoba memesan es teh manis dan minuman dingin lainnya harus kecewa karena tidak mungkin menyediakan minuman dingin tanpa listrik. Lagi-lagi listrik.

Selepas makan siang yang dipercepat (masih sekitar pukul sepuluh), perjalanan diteruskan ke dermaga untuk mencari tumpangan ke pulau-pulau lain di gugus kepualuan tersebut. Kebetulan sudah ada beberapa ojek perahu sudah menunggu dan kami semua segera naik ke perahu. Negosiasi baru terjadi di atas perahu untuk menghindari calo perahu di dermaga yang sangat berpotensi menaikkan tarif carter.

Setelah sepakat pada suatu harga, tukang perahu meminggirkan perahunya ke pulau keramba, ke pulau karya, dan juga pulau panggang untuk menurunkan penumpang kapal lain. Sebuah insiden terjadi ketika akan berangkat lagi dari pulau karya, seorang anak pulau yang ikut di ojek kami tercebur ke laut. Beruntung dia anak pulau yang ternyata sangat mahir berenang, sehingga dengan segera dia berhasil kembali ke perahu.

Next Destination: Pulau Air.

Cerita sebelumnya.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options