Taman Hutan Raya (THR) Ir. H Juanda di Dago Pakar dengan gua Jepang & gua Belanda-nya sebenarnya sudah pernah saya kunjungi sebelumnya. Demikian pula kawasan Maribaya di Lembang dengan Air Terjunnya. Tapi keinginan mengunjungi keduanya sekaligus dalam satu perjalanan baru sempat terwujud pada awal 2009.
Dengan menumpang angkot hingga terminal dago, dilanjutkan dengan ojek (lima ribu rupiah per orang), pintu masuk THR Juanda kini di depan mata. Parkiran yang luas tidak atau belum ramai hari itu, sekalipun sudah hampir pukul sepuluh.
Untuk masuk THR harus membayar biaya (delapan ribu rupiah per orang) namun pembayaran hari itu tidak disertai karcis masuk atau apapun bukti pembayaran. Ketika ditanya, bapak petugas pintu masuk menjawab kalau stok karcis saat itu habis. Besarnya biaya masuk ini ternyata dikeluhkan oleh seorang ibu penjual makanan di dalam THR. Alasannya, biaya masuk pengunjung sudah dinaikkan namun fasilitas di dalam taman tidak terurus dan bahkan sebagian dibebankan kepada para penjual.
Foto:
Setelah mengamati sebentar peta kawasan wisata Dago - Maribaya, perjalanan diteruskan menuju Gua Jepang dimana beberapa pemuda sudah menunggu untuk menyewakan lampu senter serta jasa mengantar berkeliling dalam gua. Butuh muka tebal untuk menolak setiap tawaran yang diajukan berulang-ulang.
Gua Jepang.
Dibangun pada masa penjajahan jepang yang hanya sekitar 3 tahun, gua jepang di dago ini tidak jauh berbeda dengan gua jepang yang saya temukan di Makale, Tana Toraja. Hanya lorong-lorong gua jepang di dago lebih banyak, sementara di Makale lebih menyerupai terowongan dari satu sisi bukit ke sisi lainnya. Ada beberapa rombongan pengunjung yang sedang menelusuri lorong-lorong gua jepang ini. Pengunjung tidak perlu takut masuk ke dalam gua karena relatif ramai, dinding gua yang kokoh, dan ruangan atau lorong-lorong gua yang lega, tinggi, lebar, dan panjang. Entah berapa banyak nyawa romusha yang harus menjadi korban ketika Gua Jepang ini dibuat. Dari Gua Jepang, perjalanan berlanjut ke Gua Belanda.
Foto gua jepang
Gua Belanda.
Gua Belanda pada awalnya dibangun untuk terowongan air namun berubah fungsi ketika perang berkobar. Seperti gua Jepang, gua belanda juga memiliki banyak lorong-lorong. Namun lorong gua belanda lebih kecil. Denah lorong-lorong dalam gua balanda ini dapat dilihat pada sebuah papan, di sebelah pintu masuk. Oh iya, terdapat pintu besi pada kedua ujung terowongan.
Foto Gua Belanda
Jalur Dago - Maribaya.
Perjalanan dari kawasan Dago Pakar menuju Maribaya menempuh jarak 6 km. Dengan menelusuri jalur trekking yang sudah diblock, perjalanan yang sekalipun berliku-liku dan menanjak tidak terlalu melelahkan. Terdapat warung-warung yang menawarkan makanan dan minuman di titik-titik dimana stamina sedang minim. Sesekali, ojek motor lewat menawarkan cara instan mencapai maribaya. Tapi bagi penggemar jalan kaki, ojek bukan solusi. Apalagi jika ingin berlama-lama menikmati panorama hutan di sepanjang perjalanan. Setelah sekitar 80 menit perjalanan, pada sebuah percabangan jalan, terdapat penunjuk jalur ke curug ciomas. Dari sini, suara gemuruh air terjun segera terdengar karena memang sudah dekat dengan curug.
Foto Jalur Trekking:
Curug Ciomas - Maribaya.
Tepat di atas air terjun terdapat Jembatan namun dipagar karena lantainya sudah lapuk sehingga berbahaya untuk dilalui. Sebagai alternatif untuk menikmati pesona air terjun, di bagian bawah terdapat satu jembatan lagi yang memberikan pandangan lebih baik ke arah air terjun.
Foto Curug Ciomas dan kawasan Maribaya
Setelah menikmati semua pesona Curug Ciomas, perjalanan diteruskan dengan menumpang kendaraan umum ke pasar Lembang, lalu kembali ke Bandung.
thanks wat infonya... sayang
thanks wat infonya...
sayang kurang dilengkapi dengan peta trekking agar lebih detail.
Post new comment