arsitektur

Bandung tanpa Warna - Februari 2009

Keindahan arsitektur bangunan-bangunan di kota Bandung, dipotret dengan dengan lensa standar, lalu dibuang (dikurangi) warnanya. Maka tersisa perpaduan hitam dan putih yang menawan.

Foto-foto diambil di sekitar Jl Merdeka dan Jl. Wastu Kencana Bandung pada 7 Februari 2009


Gereja Katedral Bandung,
dikenal juga sebagai Katedral Santo Petrus
Lokasi: Jl. Merdeka Bandung.

Gereja GPIB Bethel Bandung,
Lokasi: Jl. Wastu Kencana Bandung.

Gedung Sate Bandung

Gedung Sate (en:kebab building), adalah ikon lain kota Bandung, Jawa Barat. Gedung ini dibangun selama empat tahun (1920 - 1924) dengan biaya enam juta Gulden. Angka enam ini disimbolkan dalam enam biji sate tertusuk rapi di puncak bubungannya. Pada masa Hindia Belanda, gedung ini disebut Gouvernements Bedrijven (GB) yang dalam bahasa Sunda berarti "Government Companies".

Dirancang oleh tim arsitek yang dipimpin Ir. J. Gerber, gedung sate Bandung memadukan seni bangunan timur dan barat secara harmonis. Setidaknya terdapat gaya atap pura Bali, jendela ala bangsa Moor dari Andalusia, dan model bangunan masa Renaissance Italia.

Pada akhir tahun 1945, pasukan brigade Gurkha dari angkatan darat Inggris berusaha merebut gedung ini dan menewaskan tujuh pemuda. Untuk mengenang ketujuh pemuda tersebut, sebuah tugu (batu) peringatan didirikan dan kini terletak di depan gedung sate Bandung.

Jembatan Pasopati Bandung

Disebut Jembatan Pasupati karena menghubungkan jalan Pasteur (Dr. Junjunan) dengan jalan Surapati. Ikon baru kota Bandung ini membentang di atas lembah Cikapundung, dengan panjang 2,8 kilometer dan lebar 30 hingga 60 meter.

Jembatan Pasupati dibangun menggunakan dana hibah dari pemerintah Kuwait, dengan kontraktor Pt Wijaya Karya (Indonesia), PT Waskita Karya (Indonesia), dan Combined Group Co (Kuwait).

Konstruksi Jembatan Pasupati Bandung mengadopsi model cable-stayed, yaitu model jembatan yang mengandalkan kawat-kawat baja yang digantungkan dari satu atau beberapa tiang utama. Konstruksi ini, selain memberikan nilai estetika, dianggap menjadi solusi kompromi untuk meminimalkan pembebasan lahan di pemukiman padat di bawah jembatan.

Syndicate content