adventure

Pulau Semak Daun dan Pulau Air - kepulauan seribu

Lanjutan cerita seri main air main pasir di kepulauan seribu.

Cerita sebelumnya:
Muara Angke ke Pulau Pramuka
Pulau Pramuka

Pulau Semak Daun
Pulau Semak Daun termasuk di gugusan sebelah utara dari kepulauan seribu. Pulau ini dapat dicapai dengan ojek perahu kira-kira setengah jam dari Pulau Pramuka.

main air dan pasir di kepulauan seribu - bagian kedua

Bagian kedua dari catatan perjalanan main air dan main pasir di kepulauan seribu.

Sekitar pukul sembilan pagi, kapal kami merapat di dermaga Pulau Pramuka. Di dermaga ini seorang penjemput sudah menunggu untuk mengantarkan ke rumah/penginapan yang kami pesan. Ternyata cukup jauh ke sebelah selatan pulau, karena homestay di sekitar dermaga sudah habis dipesan dan wisma taman nasional juga penuh dengan tamu. Tapi rumah yang ini besar dan lebih dari cukup untuk kami bertiga belas.

main air dan pasir di kepulauan seribu - bagian pertama

Bagian pertama dari catatan perjalanan main air dan main pasir di kepulauan seribu.

Mei 2009. Matahari belum juga muncul dan kegelapan masih meliputi jakarta di suatu pagi ketika kami sudah tiba di Sarinah, tempat yang dijadikan "meeting point" untuk keberangkatan ke kepulauan seribu. Ini prestasi bagun pagi yang sangat baik, apalagi jam segitu sudah mandi dan bersiap setelah sebelumnya menjemput dua tamu istimewa dari Bandung. Dan sarinah, ternyata yang menjadikannya sebagai meeting point bukan hanya rombongan kami. Kelompok Indobackpacker yang dikomandoi mas Aris juga janjian berkumpul di sana, untuk kemudian berangkat menuju Krakatau.

Martabak Air Mancur, Bogor.

Jika lagi nyasar atau terjebak macet di Bogor, atau jika ingin menikmati jajanan kaki lima harga bintang lima di kota hujan tersebut, maka Martabak Air Mancur Bogor bolehlah jadi alternatifnya.

Saya mampir ke Martabak Air Mancur Bogor pada sebuah akhir pekan, di awal Maret, ketika dalam perjalanan ke rumah kerabat yang tinggal di kota itu. Matahari baru saja tenggelam namun masih menyisakan warna kebiruan di langit Bogor yang kala itu bersalut awan tebal.

Setelah memesan dua rasa martabak ukuran sedang, saya disilahkan menunggu. Disampaikan juga dengan sangat sopan bahwa pesanan sedang banyak dan perlu waktu sekitar 30 menit sampai pesanan saya bisa dibawa pulang.

Dalam waktu yang sangat cukup tersebut saya sempatkan memotret beberapa foto yang saya pajang di akhir tulisan ini. Juga sambil melihat-lihat alternatif jajanan di sekitar martabak air mancur bogor. Setelah itu, masih sempat juga menikmati es teler dengan diiringi lagu pengamen jalanan yang datang silih berganti

Bandung tanpa Warna - Februari 2009

Keindahan arsitektur bangunan-bangunan di kota Bandung, dipotret dengan dengan lensa standar, lalu dibuang (dikurangi) warnanya. Maka tersisa perpaduan hitam dan putih yang menawan.

Foto-foto diambil di sekitar Jl Merdeka dan Jl. Wastu Kencana Bandung pada 7 Februari 2009


Gereja Katedral Bandung,
dikenal juga sebagai Katedral Santo Petrus
Lokasi: Jl. Merdeka Bandung.

Gereja GPIB Bethel Bandung,
Lokasi: Jl. Wastu Kencana Bandung.

Gedung Sate Bandung

Gedung Sate (en:kebab building), adalah ikon lain kota Bandung, Jawa Barat. Gedung ini dibangun selama empat tahun (1920 - 1924) dengan biaya enam juta Gulden. Angka enam ini disimbolkan dalam enam biji sate tertusuk rapi di puncak bubungannya. Pada masa Hindia Belanda, gedung ini disebut Gouvernements Bedrijven (GB) yang dalam bahasa Sunda berarti "Government Companies".

Dirancang oleh tim arsitek yang dipimpin Ir. J. Gerber, gedung sate Bandung memadukan seni bangunan timur dan barat secara harmonis. Setidaknya terdapat gaya atap pura Bali, jendela ala bangsa Moor dari Andalusia, dan model bangunan masa Renaissance Italia.

Pada akhir tahun 1945, pasukan brigade Gurkha dari angkatan darat Inggris berusaha merebut gedung ini dan menewaskan tujuh pemuda. Untuk mengenang ketujuh pemuda tersebut, sebuah tugu (batu) peringatan didirikan dan kini terletak di depan gedung sate Bandung.

Menikah muda lalu ke Arab menjadi TKI

Hari itu Sabtu ketika dia mengantar saya mengunjungi Talaga Bodas hingga Cikahuripan. Rabu minggu depan dia akan menikahi seorang gadis Cianjur yang dikenalnya ketika bekerja di Bandung.

Perkenalan awal di pangkalan ojek hanya sebatas tawar-menawar tarif jasa mengantar ke Talaga dan kembali ke Wanaraja, plus kesediaan menunggu "agak lama" karena saya mau menikmati keindahan talaga.

Syndicate content