Review Film Tanah Air Beta (2010)

Tidak seperti judulnya yang sangat berkesan "nasionalis", film Tanah Air Beta justru tidak mengangkat alasan utama para pengungsi dalam film tersebut memilih bergabung dengan NKRI. Namun bukan berarti kurang "berbobot", karena film ini masih sarat dengan nilai-nilai persahabatan, persaudaraan, keragaman, meminta maaf dan memaafkan, konflik dan rekonsiliasi.

Film Tanah Air Beta mengangkat cerita tentang keluarga yang terpisah karena kerusuhan pasca referendum di Timor Leste. Meri dan ibunya (Tatiana) mengungsi ke Indonesia dan dengan terpaksa menitipkan Mauro (kakak Meri) bersama pamannya di Timor Leste. Harapannya ketika situasi sudah membaik, dapat segera dijemput kembali. Namun situasi tidak membaik dan mereka semakin terpisah.

Dalam kehidupan di pengungsian, keluarga Tatiana (penganut Katolik) hidup rukun dengan sesama pengungsi (Om Abubakar dan keluarga tionghoa Ci' Iren). Mirip potret ideal masyarakat pancasila, namun dengan kondisi sangat sederhana sekali, kalau tidak dibilang miskin. Di atas tanah gersang, dan pasokan bahan bakar yang sangat diatur. Namun di sana ada persaudaraan.

Selain menyajikan kemiskinan dan kesulitan hidup di pengungsian dan di Nusa Tenggara secara lebih umum, film ini menampilkan panorama Pulau Timor yang sangat berbeda dari bagian lain di Indonesia. Kering dan tandus tapi indah dan menakjubkan.

obrigado

Artikel terkait:
Narnia - The Lion, The Witch, and the wardrobe

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options